Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

APINDO Sulteng Soroti Beban Biaya yang Hambat Dunia Usaha

18
×

APINDO Sulteng Soroti Beban Biaya yang Hambat Dunia Usaha

Sebarkan artikel ini

Palu – Tingginya biaya operasional masih menjadi salah satu persoalan yang menghambat pertumbuhan dunia usaha di Sulawesi Tengah. Kondisi ini menjadi perhatian Ketua DPP APINDO Sulteng, Wijaya Chandra.

Wijaya Chandra menyampaikan hal tersebut dalam International Community Service Consortium, rangkaian Tadulako International Conference on Economic and Business (TICEB) ke-4 2026 di Best Western Coco Palu, Selasa 6/10/26.

Dalam forum bertema “Navigating Economic Transformation Through Innovation, Governance and Sustainability”, Wijaya mengungkap sejumlah persoalan yang menurutnya masih membebani pelaku usaha.

Ia mengelompokkan persoalan tersebut dalam istilah “PPN”, yakni Pertamina, PLN, dan narkoba. Kesulitan memperoleh BBM serta pemadaman listrik dinilai dapat mengganggu kegiatan produksi dan operasional perusahaan.

Saat listrik padam, pelaku usaha harus menggunakan genset. Namun, kebutuhan bahan bakar untuk mengoperasikan genset kembali menjadi persoalan.

“Ketika listrik padam, kita mengandalkan genset. Tetapi mencari bahan bakarnya juga tidak mudah. Ini menjadi beban tambahan bagi dunia usaha,” ujarnya.

Wijaya juga menyoroti persoalan “PPH”, yakni proposal, preman, dan hukum. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut turut memengaruhi kepastian serta biaya dalam menjalankan usaha.

“Ketika beban biaya ekonomi tinggi, itu akan menghambat pertumbuhan ekonomi kita,” katanya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Wijaya mendorong penguatan kolaborasi ABG (Academic, Business, Government). Pemerintah, perguruan tinggi dan dunia usaha dinilai perlu bersama-sama menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Ia juga mengingatkan agar Sulteng tidak terus bergantung pada industri ekstraktif.

“Kita tidak bisa berharap terus dari industri ekstraktif, karena industri ekstraktif juga ada masanya akan habis,” kata Wijaya

Menurutnya, pengembangan UMKM, inovasi produk lokal dan green economy perlu diperkuat agar perekonomian Sulteng memiliki fondasi yang lebih berkelanjutan.

“Sulteng kaya potensi, sayang kalau tidak dioptimalkan. Tetapi dalam mengoptimalkannya, kita harus tetap memperhatikan kondisi lingkungan,” ujarnya.

Forum tersebut turut menghadirkan Ketua Bidang Komunikasi GAPKI Bandung Sahari dan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulteng Miftachul Choiri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *