Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Aksi Spektakuler 150 Emak-emak Palu Mama Menari Bikin Haru di HUT ke-48 Kota Palu, Bentuk Formasi Angka Spesial

48
×

Aksi Spektakuler 150 Emak-emak Palu Mama Menari Bikin Haru di HUT ke-48 Kota Palu, Bentuk Formasi Angka Spesial

Sebarkan artikel ini

PALU — Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Kota Palu, Minggu (27/9/2026). Sebanyak 150 perempuan hebat yang tergabung dalam komunitas Palu Mama Menari (PMM) sukses memukau ribuan pasang mata lewat persembahan tari kreasi kolosal yang sarat makna.

Tampil kompak di hadapan jajaran pejabat negara—termasuk Menteri Hukum RI, Kepala Badan Karantina Indonesia, Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, Anggota DPR RI, serta tamu undangan lainnya—ratusan emak-emak dari berbagai latar belakang profesi ini sukses memecah keheningan lapangan upacara dengan sajian seni yang memukau.

Pendiri Palu Mama Menari yang juga anggota DPRD Kota Palu, Mutmainah Korona, tak mampu menyembunyikan rasa harunya usai menyaksikan penampilan anak didiknya. Air mata kebahagiaan dan pelukan hangat mewarnai momen penutup tatkala para penari menyelesaikan koreografi mereka.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada emak-emak yang sudah meluangkan waktu dan tenaga ikut menari bersama di HUT Kota Palu ke-48 ini,” ungkap perempuan yang akrab disapa Neng Korona tersebut.

Senada dengan sang pendiri, Ketua Palu Mama Menari, Fanty J. Hafid, mengaku sangat bangga dengan dedikasi tinggi para anggota komunitasnya. Meski dihadapkan dengan waktu latihan yang tergolong singkat, yakni sekitar satu pekan lebih, para ibu rumah tangga hingga perempuan karier tersebut mampu menunjukkan performa luar biasa.

“Yang buat saya bangga adalah, mereka merelakan waktunya untuk latihan hanya untuk tampil bagus dan kompak di HUT Kota Palu. Padahal, waktu latihan tidak terlalu panjang, tapi mereka bikin bangga. Terima kasih ibu-ibu,” ujar Fanty, yang sehari-hari juga menjabat sebagai salah satu Kepala Bidang di Dinas Kominfosantik Kota Palu.

Makna Mendalam di Balik Tari Kreasi Roso Nu Mombine

Tari kreasi yang dibawakan secara kolosal ini berjudul Roso Nu Mombine. Karya seni tersebut digarap oleh koreografer handal Christine Cahyadi Larekeng, Ivonda Sovia, dan Novi Anggraini, dengan dukungan penata musik Juli Idin Lanja.

Secara filosofis, Roso Nu Mombine menggambarkan kekuatan dan kelembutan yang hidup berdampingan dalam diri seorang perempuan di tengah dinamika kehidupan yang penuh liku. Melalui gerak yang lembut, anggun, dan penuh keteguhan, para penari merepresentasikan ketulusan jiwa perempuan dalam menghadapi berbagai tantangan serta ruang untuk menemukan kembali keberanian bagi diri mereka sendiri.

Dalam pementasan tersebut, properti kipas digunakan sebagai elemen gerak utama yang diselaraskan dengan alunan musik harmonis. Kipas tidak hanya melambangkan kesejukan, kesabaran, dan kelembutan batin, tetapi juga bertransformasi menjadi medium representasi 16 wastra nusantara bermotif khas Kota Palu. Perpaduan gerak tubuh dan keindahan motif budaya lokal ini menjadi simbol pelindungan serta pelestarian warisan budaya daerah.

Sebagai puncak sekaligus kado manis bagi peringatan hari jadi kota, ke-150 penari secara khusus membentuk Formasi Angka 48 di tengah lapangan. Formasi tersebut menjadi simbol cinta dan dukungan moral agar Kota Palu terus berdiri kokoh, bertumbuh, bangkit, dan semakin melejit di usianya yang ke-48 tahun.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *