Palu – Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, SE., M.A.P., memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Stunting di Auditorium Kantor Sekretariat Daerah Kota Palu, Rabu 22/7/26. Kegiatan ini dihadiri pimpinan OPD, TP PKK Kota Palu, camat, lurah, serta para pemangku kepentingan.
Rapat tersebut menjadi forum evaluasi penanganan stunting sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting di Kota Palu.
Kepala Bappeda Kota Palu, Ahmad Rijal, mengatakan berbagai langkah yang dilakukan pemerintah daerah merupakan tindak lanjut dari hasil diskusi mendalam sebelumnya. Seluruh upaya itu, menurutnya, akan dilaporkan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam percepatan penanganan stunting.
“Ini merupakan amanat dari hasil diskusi mendalam. Setiap langkah yang kita lakukan akan kita laporkan sebagai bentuk aksi nyata dalam penanganan stunting di Kota Palu,” ujar Ahmad Rijal.
Ia menjelaskan, target prevalensi stunting dalam RPJMD tahun 2025 berhasil dilampaui. Target sebesar 5,41 persen berhasil ditekan hingga mencapai 4,64 persen.
Meski demikian, Ahmad Rijal mengungkapkan penanganan stunting masih menjadi tantangan. Data terbaru menunjukkan jumlah anak stunting tercatat 1.092 anak pada April 2026, turun menjadi 1.022 anak pada Mei, lalu sedikit meningkat menjadi 1.023 anak pada Juni. Menurutnya, kondisi tersebut masih terkendali karena jumlah anak yang keluar dari kategori stunting lebih besar dibanding kasus baru.
Ia juga menyebut Kecamatan Mantikulore, Tatanga, dan Palu Selatan masih menjadi wilayah dengan angka stunting tertinggi sehingga menjadi prioritas program intervensi.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin mengapresiasi seluruh OPD dan pihak terkait atas tren penurunan angka stunting. Namun, ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak cepat berpuas diri.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh OPD dan pihak terkait yang telah bekerja keras menurunkan angka stunting di Kota Palu. Namun kita tidak boleh lengah. Kita harus terus memberikan hasil yang maksimal bagi anak-anak kita yang masih berada dalam kategori stunting,” tegasnya.
Imelda juga meminta perangkat daerah lebih aktif melakukan pendampingan di lapangan. Menurutnya, penyebab stunting tidak hanya dipengaruhi faktor gizi, tetapi juga sanitasi, lingkungan, pola asuh, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga.
“Kita harus lebih masif turun ke lapangan, mengecek langsung kondisi tempat tinggal, sanitasi, lingkungan, hingga faktor-faktor lain yang menjadi penyebab stunting. Penanganan harus dilakukan secara menyeluruh dan tepat sasaran,” katanya.
Pemerintah Kota Palu menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mempercepat penurunan angka stunting dan mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, serta berdaya saing. (*)
















