Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Kekeringan Berkepanjangan Hantam Parigi Moutong, 1.400 Hektare Lahan Terancam

5
×

Kekeringan Berkepanjangan Hantam Parigi Moutong, 1.400 Hektare Lahan Terancam

Sebarkan artikel ini

Parimo — Kekeringan berkepanjangan mulai memberi dampak serius terhadap kehidupan masyarakat dan sektor pertanian di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Sedikitnya sembilan desa yang tersebar di Kecamatan Mepanga, Bolano Lambunu dan Tomini dilaporkan terdampak setelah hujan tidak turun sejak pertengahan Juni 2026. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah sumber air mengalami penurunan debit.

Laporan Pusdalops dan TRC BPBD Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Parigi Moutong diterima pada Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 15.48 WITA.

Wilayah terdampak berada di Desa Kotaraya Induk, Kotaraya Barat, Kotaraya Timur, Kotaraya Selatan, Kotaraya Tenggara, Kayu Agung dan Ogotion, Kecamatan Mepanga. Kemudian Desa Anutapura, Kecamatan Bolano Lambunu, serta Desa Ambesia Barat, Kecamatan Tomini.

Dampak kekeringan paling besar terlihat pada sektor pertanian dan perkebunan. Berdasarkan hasil pendataan sementara, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 1.400 hektare.

Di Kecamatan Mepanga, sawah yang terdampak masing masing sekitar 100 hektare di Kotaraya Induk, 100 hektare di Kotaraya Barat, 400 hektare di Kotaraya Timur dan 100 hektare di Kotaraya Tenggara.

Sementara itu, lahan pertanian di Kotaraya Selatan seluas sekitar 200 hektare terancam gagal panen. Kondisi serupa terjadi di Desa Ogotion dengan luas pertanian terdampak sekitar 400 hektare.

Dampak juga dirasakan sektor perkebunan. Di Desa Anutapura terdapat sekitar 80 hektare lahan terdampak, sedangkan di Desa Ambesia Barat mencapai sekitar 20 hektare.

Selain mengancam produktivitas pertanian, kekeringan mulai memengaruhi kebutuhan air bersih warga. Dua kepala keluarga di Desa Kayu Agung dilaporkan membutuhkan pasokan air bersih.

Debit sumber air utama di desa tersebut juga terus menyusut dan kini hanya tersisa sekitar 25 persen dibandingkan kondisi normal. Penurunan debit serupa dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lainnya.

Menghadapi kondisi tersebut, petugas telah melakukan peninjauan lapangan, berkoordinasi dengan aparat desa serta melaksanakan asesmen untuk memetakan dampak dan kebutuhan masyarakat.

Sejumlah kebutuhan mendesak yang diperlukan antara lain alkon, sumur bor dan pasokan air bersih.

Hingga Jumat 21/8/26, kondisi kekeringan masih berlangsung. Meski demikian, belum terdapat laporan mengenai korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi.

BPBD terus memantau perkembangan situasi, khususnya kondisi sumber air serta dampak kekeringan terhadap masyarakat, pertanian dan perkebunan di wilayah terdampak. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *