Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah.
Berdasarkan analisis Fire Danger Rating System (FDRS), tingkat kemudahan terbakar bahan bakar ringan di permukaan tanah serta potensi intensitas api di sejumlah wilayah Sulteng selama tujuh hari ke depan berada pada kategori yang perlu diwaspadai.
BMKG menyebut kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang. Kondisi itu dapat membuat api lebih mudah menyala sekaligus mempercepat penyebarannya apabila kebakaran terjadi.
Sejumlah wilayah menunjukkan nilai indeks kemudahan terbakar (FFMC) yang cukup tinggi. Pada periode 22–28 Agustus, misalnya, Buol mencapai nilai FFMC hingga 91, sementara Tolitoli mencapai 89 dan Tojo Una-Una 90. Palu juga berada pada kisaran 74–89.
Dari sisi potensi intensitas api berdasarkan indeks Fire Weather Index (FWI), Banggai Kepulauan mencatat nilai hingga 37 dan Banggai Laut hingga 39. Buol mencapai 31, sementara Donggala mencapai 26 pada periode yang sama.
Perkuat Kesiapsiagaan
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau pemangku kepentingan di tingkat provinsi hingga kecamatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Salah satunya dengan segera mengaktifkan posko siaga karhutla dan menugaskan petugas pemantauan lapangan secara bergilir selama 24 jam.
Koordinasi lintas sektor juga dinilai penting dengan melibatkan BPBD, TNI/Polri, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, serta relawan. Patroli gabungan di kawasan rawan karhutla, khususnya pada siang hingga sore hari, juga perlu diperkuat.
BMKG turut mendorong kesiapan sarana pemadaman seperti pompa air, tangki air, APAR, serta perlengkapan petugas. Pos-pos air dan sekat bakar di wilayah rawan juga perlu disiapkan sebagai bagian dari langkah mitigasi.
Selain itu, laporan mengenai kemunculan asap maupun api diminta segera ditindaklanjuti melalui saluran pengaduan darurat yang aktif selama 24 jam.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan, semak belukar, maupun sampah ketika kondisi cuaca kering dan berangin.
Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan kepada perangkat desa, petugas keamanan, atau BPBD setempat.
Lingkungan sekitar rumah juga perlu dibersihkan dari material yang mudah terbakar seperti kayu, jerami, sampah kering, ilalang, dan semak. Masyarakat juga dianjurkan menyediakan cadangan air untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran kecil.
BMKG menegaskan kewaspadaan dan tindakan preventif menjadi kunci untuk mencegah karhutla menimbulkan kerugian terhadap jiwa, harta benda, maupun lingkungan.
Surat imbauan tersebut menjadi dasar bagi seluruh pihak untuk segera menyusun dan menjalankan langkah mitigasi secara konsisten hingga kondisi cuaca dan indeks FWI menunjukkan penurunan risiko. (*)
















