Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
NewsSulawesi Tengah

150 Emak-Emak Siap Gebrak Panggung HUT ke-48 Kota Palu Lewat Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”

14
×

150 Emak-Emak Siap Gebrak Panggung HUT ke-48 Kota Palu Lewat Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”

Sebarkan artikel ini
Komunitas Palu Mama Menari saat berpose bersama Walikota Palu Hadianto Rasyid

Palu – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Kota Palu dipastikan berlangsung meriah. Sebanyak 150 perempuan dari berbagai latar belakang profesi siap menyuguhkan penampilan spesial pada pembukaan perhelatan akbar yang jatuh pada Minggu, 27 September 2026.

Ratusan kaum hawa energik ini tergabung dalam komunitas Palu Mama Menari. Mereka berkolaborasi dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Palu, Bhayangkari, serta perwakilan ibu-ibu dari berbagai kelurahan se-Kota Palu.

Ketua Palu Mama Menari, Fanty J. Hafid, menyebutkan bahwa ratusan anggotanya terdiri atas ibu rumah tangga, pegawai swasta, aparatur sipil negara (ASN), hingga para istri dari unsur ASN dan anggota Polri. Seluruh pengisi acara telah merampungkan persiapan secara maksimal.

“Saat ini persiapannya sudah 90 persen karena kami sudah latihan sejak pekan lalu dan sore tadi sudah gladi resik di halaman Kantor Wali Kota Palu,” ujar Fanty J. Hafid, Jumat (25/9/2026).

Selama sepekan terakhir, para peserta menjalani latihan intensif di bawah komando pelatih tari profesional Christine Cahyani Larekeng. Setiap detail gerakan digembleng agar kompak, bahkan jalannya latihan rutin dipantau langsung oleh Sekretaris Kota Palu, Irmayanti Pettalolo.

Makna Mendalam Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”

Pada acara pembukaan nanti, kolaborasi akbar ini mempersembahkan karya seni bertajuk Tari Kreasi “Roso Nu Mombine”. Tarian ini merepresentasikan ketangguhan sekaligus kelembutan jiwa perempuan di tengah dinamika kehidupan serta kompleksitas relasi sosial.

Melalui sapuan gerak yang anggun namun penuh wibawa, para penari memancarkan keteguhan hati perempuan Tanah Tadulako. Properti kipas dipilih sebagai alat gerak utama yang diayunkan selaras dengan alunan musik gubahan penata musik Juli Idin Lanja.

Kipas dalam tarian tersebut melambangkan kesejukan, kesabaran, kelembutan, serta kekuatan batin perempuan. Menariknya, kipas-kipas itu dirancang khusus untuk merepresentasikan 16 motif wastra nusantara khas Kota Palu.

Perpaduan gerak tari dengan motif wastra lokal ini menjadi simbol pertemuan antara tradisi, kreativitas perempuan, serta upaya melestarikan karya budaya daerah agar terus hidup. Adapun karya seni ini digarap oleh trio penata tari berbakat yaitu Christine Cahyani Larekeng, Ivonda Sovia, dan Novi Angraini.

Sekadar informasi, Palu Mama Menari merupakan wadah ekspresi bagi para ibu di Tanah Tadulako untuk mencintai seni budaya lokal. Komunitas ini diinisiasi oleh anggota DPRD Kota Palu, Mutmainah Korona, selaku pendiri, bersama Fanty Juliarsi Hafid sebagai Ketua PMM dan Christine Cahyani Larekeng sebagai pelatih. Komunitas ini hadir sebagai ruang aman dan sarana pemulihan diri (self-healing) bagi perempuan dari berbagai latar belakang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *