Palu – Jambore Pertambangan 2026 digelar Selasa 22/9/26 di Sriti Convention Hall, Palu. Kegiatan yang digagas oleh FKTT Sulteng (Forum Kepala Teknik Tambang) Dan dihadiri oleh seluruh engineering tambang Sulawesi tengah.
Jambore pertambangan 2026 menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, gagasan, sekaligus merefleksikan masa depan industri pertambangan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.
Salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut, Insinyur Jefri Mulyadi, praktisi pertambangan, mengajak para pekerja dan generasi muda untuk melihat pertambangan dari sudut pandang yang lebih luas.
Menurutnya, kegiatan pertambangan harus mampu meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat setelah sumber daya alam yang ditambang nantinya habis.
Jefri mengawali pemaparannya dengan menceritakan kisah Yacouba Sawadogo, seorang pemuda di Afrika yang berupaya mengubah wilayah gurun yang tandus menjadi lahan yang dapat kembali ditumbuhi tanaman.
“Dia yakin bahwa tanah, air dan matahari seharusnya menjadi kawan bagi manusia. Kita semua, terutama yang muda-muda, harus berpikir bahwa semua ini bisa diubah menjadi sesuatu yang bersahabat dengan manusia,” ujar Jefri.
Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa perubahan sering kali bermula dari keberanian untuk mencoba sesuatu yang dianggap tidak biasa. Ia pun mengaitkannya dengan dunia pertambangan yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan keberlanjutan lingkungan.
“Jangan takut dibilang ‘sinting’ untuk berbuat sesuatu yang baik untuk kemudian hari,” katanya.
Jefri menilai, pertambangan memang memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pembangunan. Namun, manfaat tersebut tidak seharusnya berhenti ketika aktivitas pertambangan berakhir.
“Pertanyaan yang menarik adalah, what is left behind by mining? Kalau kita menambang, lalu apa yang kita tinggalkan? Kalau tidak ada yang disisakan, buat apa tambang? Apa sebenarnya yang diperoleh masyarakat dalam jangka panjang?” ujarnya.
Ia mengatakan, keberadaan perusahaan tambang seharusnya tidak hanya menghasilkan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi selama kegiatan operasi berlangsung. Masyarakat di sekitar wilayah tambang juga perlu dipersiapkan agar mampu mandiri ketika aktivitas pertambangan telah selesai.
“Ketika kita mulai menambang, kita harus berpikir sekarang. Nanti ketika 15, 20 atau 30 tahun kemudian tambang itu habis, masyarakatnya mau apa? Apakah beternak, memelihara ikan atau mengembangkan kerajinan? Itu harus dipikirkan dari sekarang, bukan ketika tambangnya sudah mau habis,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Jefri menekankan pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam industri pertambangan. Menurut dia, ekspektasi terhadap perusahaan tambang saat ini tidak lagi sebatas pencapaian angka produksi, tetapi juga bagaimana perusahaan menjalankan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Sekarang semua pertambangan harus mengadopsi ESG. Tanggung jawab sosial bukan hanya berbaik-baik kepada masyarakat sekitar, tetapi bagaimana membangkitkan masyarakat agar bisa mandiri setelah tambangnya selesai,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa program pemberdayaan masyarakat atau community development semestinya tidak dipandang hanya sebagai kewajiban perusahaan.
“Community development jangan hanya menjadi kewajiban, tetapi harus menjadi strategi,” tegasnya.
Lebih jauh, Jefri menyampaikan bahwa transformasi dalam industri pertambangan juga perlu dipersiapkan seiring dengan perubahan kebutuhan energi dan teknologi. Ia mencontohkan batu bara yang tidak selamanya harus dipandang hanya sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
Menurutnya, ketika penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik berkurang, sumber daya tersebut masih dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan lain melalui inovasi dan teknologi.
“Kita jangan berpikir bahwa ketika suatu fungsi sumber daya berakhir, maka semuanya ikut berakhir. Kita harus berkreasi. Kalau batu bara tidak lagi dipakai untuk PLTU, misalnya, masih ada kemungkinan dikembangkan menjadi metanol, urea dan berbagai produk lainnya,” ujarnya.
Bagi Jefri, perubahan sudut pandang tersebut penting agar pekerja dan pelaku industri pertambangan tidak hanya memikirkan kondisi hari ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan.
Ia menambahkan, salah satu fondasi utama pertambangan berkelanjutan adalah keselamatan kerja. Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia pertambangan, Jefri mengatakan tidak ada pekerja yang datang ke tambang dengan keinginan untuk mengalami kecelakaan.
“Tidak ada satu pun yang masuk ke pertambangan dengan mimpi untuk mati. Mereka semua masuk karena ingin mendapatkan penghasilan yang cukup dan kehidupan yang baik. Karena itu, keselamatan harus menjadi fondasi,” ujarnya.
Melalui Jambore Pertambangan 2026, berbagai gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bagi para pekerja dan pelaku industri pertambangan untuk membangun praktik pertambangan yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga meninggalkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. (*)
















