Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Warkop Harapan, Warisan Kopi Empat Generasi yang Bertahan di Palu

9
×

Warkop Harapan, Warisan Kopi Empat Generasi yang Bertahan di Palu

Sebarkan artikel ini

Palu – Asap arang kayu mengepul dari tungku sederhana di Warkop Harapan, simpang empat Jalan Danau Poso dan Jalan Sungai Moutong, Kelurahan Ujuna, Kecamatan Palu Barat. Di tempat ini, kopi masih diracik dengan cara yang diwariskan keluarga selama empat generasi.

Oscar, pengelola Warkop Harapan, memasukkan kopi ke dalam cerek kuningan sebelum menyeduhnya dengan air mendidih melalui saringan. Kopi kemudian dituangkan kembali ke gelas, sebagian disajikan dengan susu kental manis dan sebagian tanpa campuran.

“Aroma khas dari arang kayu bakar inilah yang membuat cita rasa kopi menjadi lebih khas,” ujar Oscar.

Warung tersebut tidak hanya menawarkan kopi. Pengunjung dapat menikmati nasi kuning, pisang goreng, roti bakar, telur setengah matang hingga jomu-jomu. Salah satu menu yang memiliki cerita tersendiri adalah Roti Lamadjido, roti bakar dengan telur kocok yang dahulu kerap dipesan Wali Kota Palu periode 1995–2000, Rully Lamadjido.

Menurut Oscar, Warkop Harapan merupakan usaha keluarga yang berawal dari Tan A Kui. Ia disebut tiba di Palu sekitar dekade 1940-an dan mendirikan Warung Kopi Harapan pada 1953. Pengetahuan meracik kopi kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Oscar kini menjadi generasi keempat yang meneruskan usaha tersebut. Resep kopi yang digunakan disebut masih dipertahankan, sementara bahan bakunya berasal dari petani di Kulawi, Napu, dan Palolo. Proses sangrai juga tetap menggunakan kayu bakar.

“Kami tidak mengubah resep dari zaman kakek. Yang berubah paling-paling cuma jumlah gelas yang harus kami siapkan tiap pagi,” kata Oscar.

Di tengah menjamurnya kedai kopi modern, Oscar memilih mempertahankan karakter lama Warkop Harapan.

“Kami sudah punya pelanggan sendiri. Orang datang ke sini bukan cari suasana kekinian, tapi cari rasa yang sama seperti puluhan tahun lalu,” ujarnya.

Ketua APINDO Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, menilai usaha seperti Warkop Harapan memiliki nilai lebih karena menyimpan sejarah, pengetahuan dan perjalanan ekonomi Kota Palu.

“Usaha yang dilakoni Oscar ini menjadi perhatian bagi APINDO Sulawesi Tengah, terutama bagaimana kita ikut merawat, menyebarluaskan, dan mendiseminasikan usaha-usaha yang memiliki latar belakang historis yang kuat seperti ini agar terus hidup dan menjadi bagian dari perkembangan kota,” kata Wijaya Chandra.

Warkop Harapan kini bukan sekadar tempat menikmati kopi. Di antara cerek kuningan, tungku arang dan menu-menu lawas, tersimpan jejak perjalanan keluarga dan sejarah kuliner yang terus hidup di Kota Palu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *